Daftar Band Jadul Di Indonesia
Berita Unik - Di Indonesia tahun 1970an menjadi masa penting perkembangan musik Indonesia. Banyak solois dan band baru lahir di dekade ini. Rhoma Irama juga anak zaman yang populer pada dekade ini dengan musik dangdut yang kadang dibalut sound gitar ala Deep Purple. Nama-nama macam Koes Plus, Panbers, D’lloyd dan lain-lain begitu popular sehingga menjadi idola. Bagaimana gentre rock kala itu? Musik popular Indonesia dengan anak terlarangnya yaitu musik rock pada decade 1970-an dalam catatan sejarah cukup memberikan pengaruh yang krusial bagi perkembangan musik Indonesia di masa yang akan datang. Tak ayal lagi hal itu terbukti dari perbincangan yang tidak akan ada hentinya apabila kita mengulas kembali denyut nadi perkembangan musik rock pada dekade tersebut.
1. SAS
Sepeninggal Ucok yang lebih memilih jalur solo, AKA akhirnya memutuskan bubar. Tiga personil sisa, membentuk kelompok baru, SAS, yang merupakan kependekan dari nama depan mereka. SAS inilah yang kemudian melambungkan nama Sonata Tanjung, Artur Kaunang, dan Syeck Abidin sebagai senior rock. Perpaduan Artur Kaunang sebagai basis (meski tangannya kidal), Syech Abidin (dram), dan Sonata Tanjung (gitar), betul-betul mengagetkan komunitas rock di Indonesia.SAS merekam album pertamanya Baby Rock tahun 1976. Album ini menembus sampai Australia. Arthur memberi pengaruh yang kenal pada SAS sehingga grup tersebut lebih condong ke jenis musik cadas atau underground macam Led Zeppelin hingga Grand Funk.
Beberapa lagunya seperti Nirwana, Sansekerta, (1983) hingga Badai Bulan Desember, betul-betul menjadi “lagu wajib” musisi rok tahun 70-an. Padahal tahun itu, kompetitor SAS cukup banyak juga. SAS kemudian merekam beberapa album diantaranya Baby Rock (1976), Bad Shock (1976), Blue Sexy Lady (1977), Episode Jingga (1985), Sirkuit (1988) dan Metal Baja (1991). Sampai detik ini bulan ada kata bubar dari ketiga personilnya. Namun hanya Arthur Kaunang yang masih menggeluti musik. Sedangkan Syech Abidin dan Sunata Tanjung lebih memilih fokus ke dunia religious. Agen Sakong
2. Giant Step
Nama Giant Step memang tidak sefenomenal dan melegenda seperti halnya God Bless. Namun, grup era 1970-an asal Kota Bandung ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya band rock Indonesia pada masa itu yang paling tidak suka membawakan lagu-lagu orang lain. Dengan kata lain Giant Step merupakan band rock yang berani “melawan arus” pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri.
Formasi awal Giant Step terdiri dari Benny Soebardja, Deddy Stanzah, Sammy dan Yockie namun tidak bertahan lama. Kemudian Benny mengajak Adhi Haryadi (bass), Yanto Sudjono (drum), dan Deddy Dores (vokal dan kibor). Tahun 1975 Giant Step mulai masuk dapur rekaman dan memulai debut album
yang diberi judul Giant Step Mark-I (1976). ). Tidak lama kemudian Albert Warnerin juga bergabung. Selama perjalanan band ini kerap berganti personil dan sempat lama vakum setelah meluncurkan album Giant Step 6. Sempat come lewat album Gregetan namun setelah itu bubar. Giant Step termasuk band rock yang lumayan produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985.
3. Freedom of Rhapsodia
Band ini berasal dari Kota Kembang Bandung, dibentuk oleh beberapa musisi, antara lain Soleh Sugiarto Djayadihardja (drums, vokal), Deddy Dores (lead guitar, vokal), Utte M Thahir (bass), dan Alam (lead vocal). Kekuatan aransemen musik grup ini, karena mampu memadukan alat musik tiup brass section ketika memainkan nomor-nomor souls dari James Brown, dan hard rock dari Deep Purple maupun Alice Cooper yang menjadikan ciri khas mereka.
Dunia rekam mulai mereka jejaki tahun 1972 lewat debut album “Vol I” yang melambungkan lagu hit Hilangnya Seorang Gadis membuat nama Freedom Of Rhapsodia semakin dikenal di Tanah Air yang kabarnya album ini terjual hingga 50 ribu keping. Bahkan 35 tahun kemudian (2007) di aransemen ulang oleh Erwin Gutawa dalam album Rockestra dengan nuansa yang lebih ngerock. Agen Sakong
